ILMU DAN BUDAYA

3 04 2008

ILMU DAN BUDAYA

 oleh Anton sujarwo

A.     Pengertian Ilmu

 

Ilmu berasal dari bahasa arab yaitu : ‘alima, ya’lamu, ‘ilman yang berarti mengerti, memahami benar-benar. Dalam bahasa inggris ilmu disebut science dan dari bahasa latin scientia (pengetahuan). Dalam kamus besar bahasa Indonesia ilmu diartikan sebagai pengetahuan tentang sesuatu bidang yang disusun secara bersistem menurut metode-metode tertentu yang dapat digunakan untuk menerangkan gejala-gejala tertentu dibidang pengetahuan itu.

 

B.     Pengertian Budaya

 

Istilah budaya berasal dari bahasa sansekerta yaitu buddhayah sebagai bentuk jamak  dari buddhi yang berarti budi atau akal. Pendapat lain mengatakan bahwa kebudayaan itu berasaldari kata majemuk budi-daya artinya data dari budi, kekuatan dari akal.

Dalam kamus besar bahasa Indonesia budaya berarti pikiran, akal budi, sedangkan kebudayaan berarti hasil kegiatan dan penciptaan batin (akal budi) mansia seperti kepercayaan, kesenian, dan adat istiadat.

Kebudayaan dapat diartikan sebagai hal yang bersangkutan dengan budi atau akal yang diperoleh manusia secara sadar lewat proses belajar.

 

C.     Ilmu Merupakan Produk dari Proses

 

Ilmu merupakan produk dari proses berfikir dalam menghasilkan suatu kesimpulan yang berupa pengetahuan yang dapat diandalkan.Ilmu merupakan produk dari porses berfikir menurut langkah-langkah tertentu yang disebut dengan berfikir ilmiah.

Berfikir ilmiah mempunyai du criteria, yaitu:

1.      Berfikir Ilmiah  harus mempunyai alur jalan pikiran yang logis.

2.      Pernyatan yang bersifat logis tersebut harus didukung serta oleh fakta empiris. Beberapa karakteristik dari Ilmu :

1.      Ilmu mempunyai rasio sebagai alat untuk mendapatkan pengetahuan yang benar.

2.      Alur jalan pikiran yang logis yang konsisten dengan pengetahuan yang telah ada.

3.      Pengujian secara empiris sebagai kriteria kebenaran obyektif.

4.      Mekanisme yang terbuka terhadap koreksi.

Manfaat nilai yang dapat ditarik dari karakteristik ilmu adalah bersifat rasional, logis, obyektif, dan terbuka.

 

D.     Ilmu sebagai Asa Moral

 

      Ilmu merupakan kegiatan berfikir untuk mendapatkan pengetahuan yang benar atau secara lebih sederhana dikatakan ilmu bertujuan untuk mendapatkan kebenaran

 Dua Karakteritik yang merupakan asas moral bagi kaum ilmuwan yaitu :

1.      Meninggikan Kebenaran

2.      Pengabdian secara universal

      Jika ilmu dapat mendukung pengembangan kebudayaan nasional, maka bagaimana caranya meningkatkan peranan keilmuan dalam hidup kita.

      Langkah-langkah yang sismetik untuk meningkatkan peranan dan kegiatan keilmuan pada pokoknya mengandung pemikiran sebagai berikut :

1.      Ilmu merupakan bagian dari kebudayaan dan oleh sebab itu langkah-langkah ke arah peningkatan peranan dan kegiatan keilmuan haru memperhatikan situasi kebudayaan masyarakat.

2.      Ilmu merupakan salah satu cara dalam menemukan kebenaran.

3.      Asumsi dasar dari semua kegiatan dalam menemukan kebenaran adalah rasa percaya terhadap metode yang di pergunakan dalam kegiatan tersebut.

4.      Pendidikan Keilmuan harus sekaligus dikaitkan dengan pendidikan moral.

5.      Pengambangan bidang keilmuan harus disertai dengan pengembangan dalam bidang filsafat terutama yang menyangkut keilmuan.

6.      Kegiatan ilmiah haruslah bersifat otonom yang terbebas dari kekangan struktur kekuasaan.

Pada hakikatnya semua unsure kebudayaan harus diberi otomi dalam menciptakan paragdima mereka sendiri, meski tidak berarti bahwa kegiatan keilmuan harus lepas sama sekali dari kontrol pemerintah dan masyarakat.

 

E.      Ilmu dan Pengembangan Kebudayaan Nasional

 

      Ilmu merupakan bagian dari pengetahuan dan pengetahuan merupakan unsure dari kebudayaan. Perkembangan budaya manusia merupakan masala budaya yang didasarkan pada tiga unsur yang terdapat dalamdiri manusia, yaitu :

·        Unsur Cipta (budi), berknaan dengan akal (ratio), yang menimbulkan ilmu dan teknologi (scienci dan technologi). Dengan akal itu manusia menilai mana yang benar dan mana yang tidak benar menurut kenyataan yang diterima oleh akal (nilai kebenaran atau nilai kenyataan)

·        Unsur Rasa (Estetika), yang menimbulakan kesenian. Dengan rasa itu manusia mana yang indah dan mana yang tidak indah (nilai keindahan).

·        Unsur Karsa (etika), yang menimbukan kebaikan. Dengan Karsa itu manusia menilai mana yang baik dan mana yang tidak baik (nilai kebaikan atau nilai moral).

Kebudayaan nasional merupakan kebudayaan yang mencerminkan aspirasi dan cita-cita suatu bangsa yang diujudkan dengan kehidupan bernegara. Pengambangan kebudayaan nasional meruapakan bagian dari kegiatan suatu bangsa, baik disadari atau tidak maupun dinyatakan secara eksplisit tidak.

      Perkembangan kebudayaan nasional ditujukan kearah terwujudnya suatu peradaban yang mencerminkan aspirasi dan cita-cita bangsa Indonesia. Pancasila yang merupakan filsafat dan pandangan hidup bangsa Indonesia merupakan dasar bagi pengembangan peradaban tersebut. Untuk mewujudkan peradaban tersebut diperlukan nilai kreativitas sebagai kemampuan untuk mencari pemecahan baru terhadap suatu masalah. Nilai ini bersifat mendorong kea rah pengembangan segenap potensi kebudayaan dalam mewujudkan peradaban yang khas.

Dalam rangka pengembangan kebudayaan nasional, ilmu mempunyai peranan ganda  yaitu :

1.      Ilmu sebagai sumber nilai yang mendukung terselenggaranya pengembangan kebudayaan nasional.

2.      Suatu bangsa.

      Kedua fungsi ini terpadu satu sama lain dan sukar dibedakan. Pengkajian pengembangan kebudayaan nasional tidak terlepas dari pengembangn ilmu.

 

F.      Kebudayaan dan Pendidikan

 

      Pendidikan adalah usaha sadar dan sistematis dalam membantu anak didik untuk mengembangkan pikiran, kepribadian,dan kemampuan fisiknya. Pendidikan merupakan suatu proses membuat orang kemasukan budaya, membuat orang berprilaku mengikuti budaya yang memasuki dirinya.

      Suatu budaya sesungguhnya merupakan bahan masukan atau pertimbangan bagi anak dalam mengembangan dirinya. Kebudayaan akan berubah terus seiring dengan perkembangan zaman, perkembangan ilmu dan teknologi serta perkembangan kepandaian manusia.

      Pendidikan adalah bagian dari kebudayaan. Pendidikan dan Kebudayaanmempunyai pengaruh timbal balik. Bila kebudayaan berubah, maka pendidikan juga bisa berubah dan bila pendidikan berubah akan dapat mengubah kebudayaan. Disini jelas bahwa peranan pendidikan dalam mengembangkan kebudayaan adalah  sangat besar.

       Pendidikan dapat mengembangkan kebudayaan melalui tiga hal yaitu :

1.      Originasi, yaitu sesuatu yang baru atau penemuan-penemuan baru.

2.      Difusi, yaitu sesuatu pembentukan kebudayaan baru akibat masuknya elemen-elemen budaya baru kedalam budaya lama.

3.      Reinterpretasi, yaitu perubahan kebudayaan akibat terjadinya modifikasi elemen-elemen kebudayaan yang telah ada agar sesuai dengan keadaan zaman.

Werber dan Smith (Imran Manan,1989) menyebutkan ada enam fungsi utama kebudayaan dalam kehidupan manusia :

1.      Penerus keturunan dan pengasuh anak

2.      Pengembang kehidupan berekonomi

3.      Transmisi Budaya

4.      Meningkatkan iman dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa

5.      Pengendalian Sosial

6.      Rekreasi

 

Manfaat sekolah atau pendidikan bagi masyarakat yaitu :

1.      Pendidikan sebagai transmisi  budaya dan pelestarian budaya

2.      Sekolah sebagai pusat budaya bagi masyarakat

3.      Sekolah mengembangkan kepribadian anak

4.      Pendidikan membuat orang menjadi warga Negara yang baik

5.      Pendidikan meningkatkan Integrasi Sosial

6.      Pendidikan meningkatkan kemampuan menganalisis secara kritis melalui pelajaran ilmu, teknologi dan kesenian

7.      Sekolah meningkatan alat control social

8.      Sekolah membantu memecahkan masalah social

9.      Pendidikan sebagai perubahan social melalui kebudayaan yang baru

10.  Pendidikan berfungsi sebagai seleksi dan alokasi tenaga kerja

11.  Pendidikan dapat memodifikasi hierarki ekonomi masyarakat

 

 

G.     Dua Pola Kebudayaan

 

      Ilmuwan pengarang terkenal C.P.Show dalam bukunya yang sangat provokatif The TwoCultures  mengingatkan Negara-negara Barat akan adanya dua pola kebudayaan dalam tubuh mereka yakni masyarakat imuwan dan non ilmuwan yang menghambat kemajuan di bidang ilmu dan teknologi.

      Analog ini diterapkan pula dinegara kita, dimana bidang keilmuan mengalami polarisasi dan membentuk kebudayaan sendiri. Polarisasi ini didasarkan kepada kecenderungan beberapa kalangan tertentu untuk memisahkan ilmu kedalam dua golongan yakni ilmu-ilmu alam dan ilmu-ilmu sosial.

      Adapun dua kebudayaan yang terbagi kedalam ilmu-ilmu alam dan ilmu-ilmu sosial sampai sekarang masih terdapat di Indonesia, hal ini terlihat dengan tetap adanya jurusa IPA dan IPS dalam system pendidikan kita. Jika kita menginginkan kemajuan dalam bidang keilmuan yang mencakup ilmu-ilmu alam dan ilmu-ilmu sosial, maka dualisme kebudayaan harus dihilangkan. Adanya pembagian jurusan ini merupakan hambatan psikologis dan intelektual bagi pengembangan keilmuan di negara kita.

      Jika sekitarnya memang diperlukan pola pendidikan yang berbeda, maka alternatif yang dapat ditempuh bukan lagi pembagian jurusan berdasarkan bidang keilmuan melainkan berdasarkan tujuan pendidikan matematika. Sebagiamana kita ketahui, ada dua tujuan pokok dalam pendidikan matematika, yaitu:

         Tujuan yang pertama mencakup penguasaan matematika secara teknis dan mendalam dalam rangka penalaran deduktif untuk menemukan kebenaran.

Pengetahuan yang dihasilkan lewat analisis matematika pada hakikatnya merupakan kesimpulan penalaran yang diformulasikan secara matematik.

         Tujuan kedua adalah penguasaan matematika sebagai alat komunikasi simbolik.

Dalam hal ini seseorang harus mempunyai kemampuan untuk menyingkap pengetahuan yang tersimpul dalam symbol tersebut, termasuk latar belakang eksistensiny

 

Pada tahap pendidikan yang tepat, maka seseorang diperkenankan untuk memilih jurusan berdasarkan bakat matematikanya. Pembagian jurusan  semacam ini akan meningkatkan mutu keilmuan yang menekankan kepada cara berpikir ilmiah yang ditopang oleh sarana-sarana berfikit ilmiah termasuk matematika dan statistika. Pendekatan dikotomi (pendekatan yang membedakan dua hal yang selalu diperbandingkan dalam pendidikan matematika) dalam pendekatan pendidikan matematika ini mungkin belum menyelesaikan masalah, namun paling tidak terdapat suatu jalan keluar yang pragmatis dari dilemma yang dihadapi system pendidikan kita. Adanya dua pola kebudayaan dalam bidang keilmuan kita bukan  saja merupakan sesuatu yang regresif melainkan juga destruktif, bukan saja bagi kemajuan ilmu itu sendiri, melainkan juga bagi pengembangan peradaban secara keseluruhan.

 


Aksi

Information

2 responses

3 04 2008
Mr WordPress

Hi, this is a comment.
To delete a comment, just log in, and view the posts’ comments, there you will have the option to edit or delete them.

8 04 2008
hendrawadimath07

bagus, teruskan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: